Human Voices

Prominent messages from around the world.

More Subject...

Pandemi dan Pendidikan Anak di Indonesia


Catatan untuk Kita, Orang Tua

Versi Bahasa Inggris dapat dilihat disini

Selamat Hari Anak Nasional 2020!

[Jakarta, LTTW] Bulan Juli tahun ini begitu istimewa bagi kami; tidak hanya karena saudara/i kita di Bali baru saja merayakan Hari Saraswati (Hari Ilmu Pengetahuan) pada tanggal 4 Juli kemarin dan hari ini kita merayakan Hari Anak Nasional, tetapi juga ini kali pertamanya tim editorial listentotheworld.net mengusung sistem tematik, yang dimana “Sumber Ilmu Pengetahuan” menjadi tema pertamanya. Untuk membuat segalanya makin istimewa, kondisi pandemi saat ini pula dapat kita “manfaatkan” sebagai momen refleksi diri pada bagaimana kita selama ini memaknai pendidikan untuk putra-putri tercinta negeri.

Pembelajaran telah didapatkan dari Hari Saraswati bahwasannya ilmu pengetahuan bersifat dinamis layaknya air sungai yang mengalir tanpa henti. Sangat dinamis sampai-sampai dapat ditemukan dalam berbagai bentuk; mulai dari alam, cerita, seni, buku-buku, interaksi, sampai permainan. Apabila ilmu pengetahuan begitu dinamis, tentu pula pendidikan. Karena esensinya, pendidikan adalah salah satu cara memperoleh pengetahuan.

Pendidikan

Bila menilik kembali sejarah, pertama kali diselenggarakannya Hari Anak Nasional oleh Presiden ke-2 RI sampai hari ini, pendidikan di banyak kota besar di Indonesia masih dimaknai layaknya besi yang keras dan kaku yang dimana sangat berbanding terbalik dengan pandangan penduduk Bali terkait Hari Saraswati.

Dari generasi ke generasi, banyak orang tua (termasuk orang dewasa pada umumnya) yang masih percaya bahwa pendidikan formal adalah pendidikan utama yang harus diprioritaskan apapun alasannya, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Sementara itu, pendidikan informal dinomorduakan – bila tidak dinomortigakan (apabila pendidikan non-formal juga diikutsertakan). Hal tersebut “benar” adanya apabila kita menginginkan nilai, gelar dan almamater yang bagus, tetapi “tidak” untuk hal yang lebih dari itu. Jadi, semua itu pada akhirnya tergantung pada bagaimana kita memaknai tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Walaupun sulit membahas mengenai pendidikan dan tujuannya karena memiliki dimensi yang luas, setidaknya kita dapat mengerucutkan area pembahasannya, yaitu pendidikan untuk anak. Bagi Sacred Bridge, pendidikan tersebut hadir untuk mempersiapkan seorang anak dengan kemampuan dasar yang membuatnya mampu berdikari untuk tidak hanya masuk ke “dunia yang sebenarnya” tetapi juga dapat menaklukkannya. Seorang anak seperti ini mungkin hanya dapat tumbuh di lingkungan dimana pendidikan formal dan informal dijalankan secara proporsional.

Formal / Informal

Sebelum kita menggali lebih dalam, tentunya kita perlu untuk memahami apa itu pendidikan formal dan informal. Secara umum, formal dan informal disini membahas mengenai tata cara/penerapan dalam suatu pendidikan. Pendidikan formal seringkali dilakukan di tempat resmi seperti sekolah dan universitas dengan struktur pendidikan yang telah ditentukan. Pendidikan informal, disisi lain, bebas dilakukan dimana saja (alam, museum, rumah, lingkungan sekitar, dll) dengan cara pembelajaran yang bersifat lebih mandiri, yaitu berdasarkan pengalaman. Kedua tata cara ini dapat memiliki silabus yang sama, tetapi, satu hal yang harus diketahui adalah bahwa perbedaan tata cara akan secara otomatis menyebabkan perbedaan atas bentuk, metode, sampai pada akhirnya berdampak pada tingkat pemahaman si anak atas pembelajaran itu sendiri. Misalkan, seorang anak yang belajar mengenai kebudayaannya di sekolah tentu memiliki pemahaman yang berbeda dengan bila si anak belajar di, sebut saja, Banjar (apabila kita mencontohkan kebudayaan Bali). Singkat kata, saat kita membicarakan mengenai tata cara pendidikan, kita juga secara tidak langsung membicarakan faktor lainnya yang disebutkan diatas.

Di zaman sekarang ini, apabila kita melihat secara berat sebelah suatu pendidikan, implikasi yang tidak diinginkan akan muncul. Bila kita terlalu mengekspos pendidikan yang formal pada anak, mereka cenderung akan menjauh dari keakarannya (kebudayaannya). Bahkan di banyak kasus, obsesi yang abnormal pada pendidikan formal dapat mengancam eksistensi sebuah kebudayaan secara holistik, karena hal tersebut seringkali merusak mekanisme sosial didalamnya. Sebagai contoh, seorang pemuda berlatar pendidikan formal cenderung untuk tidak lagi menghormati para sesepuh desa dan tradisinya. Alasan dibaliknya dikarenakan oleh – menurut “kamus” masyarakat modern – seseorang tanpa pendidikan formal diyakini sebagai orang tak berbudaya/ berilmu. Kenapa? Tidak seperti pendidikan informal, pendidikan formal yang kita tahu saat ini adalah hasil akumulasi dari berbagai jenis ilmu pengetahuan lintas generasi yang telah mapan diteorisasikan dan distandarisasi – belum lagi ditambah keidentikannya dengan modernisasi.

Pendidikan informal disisi lain, atau, pendidikan kebudayaan menurut Sacred Bridge, memiliki peran dan fungsinya tersendiri. “Kebudayaan” disini tidak terbatas hanya pada budaya tradisional, tetapi kebudayaan secara umum. Melalui pendidikan ini anak dapat belajar dan merasa bangga terhadap keakarannya; termasuk juga didalamnya ilmu pengetahuan dan kearifan lokal (nilai, budi pekerti, dll) yang diwariskan turun temurun oleh para leluhur yang tak kalah hebat bila disandingkan dengan ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan formal. Lebih lagi, pada tahapan tertentu ilmu pengetahuan ini justru terbukti lebih cocok, khususnya pada komunitas tradisional, karena sifatnya yang kontekstual dan praktikal.

Ambil suku Mentawai sebagai contoh. Mayoritas para sesepuh di suku ini, jangankan memahami sains dari kacamata formal, mungkin mereka juga tidak mampu dalam membaca dan menulis huruf alphabet. Tetapi mereka memiliki pengetahuan dan kemampuan hebat yang dapat “membaca” komposisi flora fauna di hutan mereka tinggal. Dengan pengetahuan ini, suku Mentawai akan mengetahui kapan mereka harus bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain untuk bertahan hidup sekaligus menjaga stabilitas ekosistem hutan-hutan tersebut. Pengetahuan ini diwariskan ke generasi mudanya secara oral maupun praktek langsung. Kekurangan dalam pendidikan ini adalah karena ketidakmampuan generasi tua dalam menteorisasikan pengetahuannya membuat mereka tidak dapat memfasilitasi proses belajar mengajar yang mumpuni bagi generasi mudanya, dan juga tidak dapat menstandarisasi pengetahuannya untuk dipelajari oleh generasi muda di wilayah lain di Indonesia. Alhasil, kekurangan ini cenderung membuat ilmu pengetahuan tersebut tertinggal dan tergerus seiring perkembangan zaman. Disinilah peran pendidikan formal dalam mengisi kekurangan tersebut.

Formal + Informal

Mengetahui kita telah memiliki pemahaman yang mumpuni mengenai perbedaan kedua tata cara pendidikan diatas – serta pula peran dan fungsinya masing-masing – kita dapat mengatakan bahwa pendidikan formal dan informal hadir tidak untuk saling mendominasi, melainkan, saling berhubungan dan memperkaya satu sama lain.

Secara prakteknya, pendidikan formal memberikan petunjuk bagi orang dewasa/ orang tua untuk dapat mengetahui kapan dan materi ajar apa yang seorang anak butuhkan sesuai dengan umurnya melalui klasifikasi tingkatan dan kurikulum. Dengan petunjuk tersebut, orang tua dapat mendukung anak mereka (di rumah contohnya) dalam mengasah kemampuan dasar yang didapatnya disekolah, tentu dengan metode yang lebih informal dan dinamis.

Di berbagai dunia saat ini, pendidikan, nyatanya terus dieksplorasi dan diuji-coba; seringkali – bila tidak setiap kali – dengan mengkombinasikan tata cara formal dan informal guna menemukan bentuk pendidikan yang bersifat cair dan kontekstual yang dapat mendorong keluarnya potensi maksimal pemimpin masa depan kita. Dengan dibekali kedua pendidikan ini, anak kita akan memiliki cakrawala pengetahuan yang luas, dan alhasil akan memberikan pemahaman yang baik atas apa yang ada/ terjadi disekitarnya. Jadi nanti di masa depan, mereka dapat memilih jalan yang mereka inginkan, apapun itu, tanpa terbatasi oleh kurangnya identitas, kapasitas, perspektif dan kebijaksanaan. Dalam hal ini – menurut Serrano G. Sianturi – pendidikan juga berperan dalam membekali anak untuk bisa menjalankan salah satu haknya: kebebasan dalam memilih.

Memulai untuk menggalakkan kedua pendidikan ini kepada anak kita sangatlah penting, khususnya di masa tak menentu seperti pandemi saat ini yang dimana pendidikan formal jadi terbatasi, menyebabkan hubungan anak dengan teknologi digitalnya (seperti media sosial) semakin intens dan sukar untuk dikontrol. Lantaran media sosial ini, sementara orang tua secara konservatif menggalakkan pendidikan formal, anaknya di sisi lain, terekspos secara bertubi-tubi oleh “materi ajar” digital yang melampaui kurikulum dan tahapan sekolah. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi lanjut dikemudian hari apabila kurang adanya bimbingan.

Khawatir dengan “pendidikan virtual” ini, lisntentotheworld.net memutuskan untuk turut mendukung dan mendorong para orang dewasa dalam memonitor aktivitas anak dalam menggunakan teknologi digital. Akan tetapi, sebelum itu, ada baiknya apabila kita bersama-sama meninjau ulang kembali dan menggali lebih dalam makna dari teknologi itu sendiri. Atas dasar itu, tema Agustus 2020 kita akan membahas topik seputar “Apa itu Teknologi”.

(BP/RR)

Avatar

Author: Desk


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments